Mari Masuki Dunia Parenting, Inspirasi, dan Hiburan

Assalamu'alaikum sahabat Lithaetr, Alhamdulillah, saya mendapatkan pengingat yang luar biasa lagi hari ini. Memang benar, kalau di...

Awas Kata-katamu Bisa Jadi Kutukan Mautmu!

Assalamu'alaikum sahabat Lithaetr,

Alhamdulillah, saya mendapatkan pengingat yang luar biasa lagi hari ini. Memang benar, kalau dirimu berdekatan dengan orang berilmu dan baik, maka kamu akan selalu dapat pencerahan.
Gambar: pexel dan kreasi pribadi
Seorang motivator dan pebisnis terkenal yang saya ikuti menuliskan hal ini di channel telegramnya,

Kalimat-kalimat yang populer, belum tentu benar.

Sering dianggap benar, padahal belum tentu benar.

Orang-orang menganggapnya benar karena mayoritas orang menyebut-nyebutnya dan melakukannya. Semacam ikut-ikutan. Boleh dibilang, ada Bandwagon Effect di sini.

"Terima aku apa adanya!" Ini sebenarnya kalimat yang salah dan berbahaya. Itu artinya kita nggak mau belajar, nggak mau bertumbuh.

Kalau Nabi Yusuf atau Nabi Sulaiman yang ngomong begitu, yah pantes. Wanita pun bisa menerima dengan senang hati. Wong prianya jelas-jelas ganteng, kaya, pinter, soleh, dan penuh wibawa.

Lha kalau kayak kita-kita ini? Yah nggak pantes ngomong begitu. Sama sekali nggak pantes. Banyak hal yang perlu kita perbaiki. Saran, carilah pasangan yang siap belajar dan siap bertumbuh. 

"Saya nyari istri yang mau diajak hidup susah!" Ah, niat awalnya aja nggak bener. Udah susah, terus ngajak-ngajak orang lagi, hehehe. 

Kalaupun sekian tahun kita hidup susah bersama pasangan, yah nggak apa-apa. Jalani. Tapi niat kita saat hendak menikahi adalah untuk membahagiakan. Bukan ngajak hidup susah. Hei, jangan main-main. Setiap kata adalah doa dan menjadi semacam rel yang mengarahkan langkah-langkah kita.

So, pilih kata-kata yang tepat dan memberdayakan. Siaaaap? - Ippho Santosa.

Dari kata-kata beliau ini langsung membuat saya teringat, status salah seorang sahabat 2 hari yang lalu,
Gambar: facebook/hastinpratiwi
Kata-kata sehari-hari seperti di buku ini sering ... banget muncul dalam keseharian kita. Padahal kalimatnya terkesan ringan, kan? 


Saya pun yang sudah belajar ilmunya kadang kalau lagi emosi masih suka meluncur kata-kata nggak baik.

Yang panik lah, yang mikir lah, yang berat lah, de el el. Pokonya enggak banget dan justru bikin berat hati serta pikiran kita.



Nanti kalau udah atur napas dan rasa, baru deh agak tenang, mulai insyaf dan bilang "Bismillah, Allah adalah sebaik-baik penolong. Tak ada satu kekuatan pun yang melebihi kekuatan-Nya..."

Kalau kamu bagaimana?
Semoga lebih baik dari saya, ya, hihi...
Aamiin 


Saya merasa kalau kata-kata dan status dua orang tersebut serupa dan memiliki makna yang hampir sama, yaitu berpikiran negatif. Lalu, saya berusaha mengambil kesimpulan kalau ternyata kata-kata juga bisa menjadi kutukan maut. Kok bisa begitu? Simak terus catatan saya ya.

Kata-kata yang ditulis Pak Ippho sangat mengena bagi saya, sebab benar adanya. Saya sering mendengar kalau menikah harus mau hidup susah. Tapi apakah benar demikian? Coba kita simak hadist berikut ini,

Dilansir dari rumaysho (20/4/2016),

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ثَلَاثَةٌ كُلُّهُمْ حَقٌّ عَلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ عَوْنُهُ الْمُجَاهِدُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالنَّاكِحُ الَّذِي يُرِيدُ الْعَفَافَ وَالْمُكَاتَبُ الَّذِي يُرِيدُ الْأَدَاءَ
Artinya:
Ada tiga orang yang akan mendapatkan pertolongan Allah: (1) orang yang berjihad di jalan Allah, (2) orang yang menikah demi menjaga kesucian dirinya, (3) budak mukatab yang ingin membebaskan dirinya.” (HR. An-Nasa’i, no. 3218; Tirmidzi, no. 1655; Ibnu Majah, no. 2518. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).
Dalam hadits qudsi dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَا ابْنَ آدَمَ أَنْفِقْ أُنْفِقْ عَلَيْكَ
Artinya: “Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman: Wahai anak Adam, berinfaklah, Allah akan mengganti infakmu.” (HR. Bukhari, no. 4684; Muslim, no. 993).
Sebagaimana disebutkan oleh Imam Nawawi rahimahullah ketika menjelaskan hadits doa malaikat di atas, “Para ulama menyatakan bahwa infak yang dimaksud adalah infak dalam ketaatan, infak untuk menunjukkan akhlak yang mulia, infak pada keluarga, infak pada orang-orang yang lemah, serta lainnya. Selama infak tersebut tidaklah berlebihan, alias boros.” (Syarh Shahih Muslim, 7: 87).
Tuh, dari hadits saja tidak ada yang mengatakan kalau menikah hidup jadi susah. Justru dengan menikah rezeki kita akan semakin terbuka. Lalu, mengapa mengkotakkan pikiran dengan kata-kata negatif seperti itu? Bila pikiran terus-terusan di bombardir kata-kata negatif, awas dia akan menjadi kutukan maut bagimu sendiri.
Jadi hati-hatilah terhadap pemilihan kata-katamu ya, Sahabat!
Jangan sampai kata-kata yang seharusnya bisa membuatmu melesat sebagai bintang, memotivasi, dan menginspirasi, justru malah menjadi kutukan. Enggak mau kan? Yuk, mulai hari ini kita berjanji:

1. Selalu berusaha menghindari pemakaian kata-kata negatif.
2. Karena kata-kata itu adalah doa, maka marilah berdoa yang baik-baik saja.
3. Buatlah kutukan-kutukan positif sebelum dan sesudah bangun tidur.
4. Selalu bersyukur dengan keadaan apa pun yang kita terima, sebab rezeki, jodoh, dan lain sebagainya sudah ditentukan semenjak kita di dalam kandungan.

Inilah hadistnya, Diambil dari rumaysho (26/7/2017),

عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بنِ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : حَدَّثَنَا رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَهُوَ الصَّادِقُ الْمَصْدُوْقُ : إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْماً نُطْفَةً، ثُمَّ يَكُوْنُ عَلَقَةً مِثْلَ   ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُوْنُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيْهِ الرُّوْحَ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيْدٌ. فَوَ اللهِ الَّذِي لاَ إِلَهَ غَيْرُهُ إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا، وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ  الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا
Dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu beliau berkata, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam menyampaikan kepada kami dan beliau adalah orang yang benar dan dibenarkan, “Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan penciptaannya di perut ibunya sebagai setetes mani (nuthfah) selama empat puluh hari, kemudian berubah menjadi setetes darah (‘alaqah) selama empat puluh hari, kemudian menjadi segumpal daging (mudhgah) selama empat puluh hari. Kemudian diutus kepadanya seorang malaikat lalu ditiupkan padanya ruh dan diperintahkan untuk ditetapkan empat perkara, yaitu rezekinya, ajalnya, amalnya dan kecelakaan atau kebahagiaannya. Demi Allah yang tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain-Nya. Sesungguhnya di antara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli surga hingga jarak antara dirinya dan surga tinggal sehasta. Akan tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan perbuatan ahli neraka maka masuklah dia ke dalam neraka. Sesungguhnya di antara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli neraka hingga jarak antara dirinya dan neraka tinggal sehasta. Akan tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan perbuatan ahli surga  maka masuklah dia ke dalam surga.” (HR. Bukhari, no. 6594 dan Muslim, no. 2643).

Faedah Hadits:

Gambar: pexel

  1. Pembentukan manusia dalam rahim mulai dari nuthfah (setetes mani), ‘alaqah (segumpal darah), mudhgah (segumpal daging) masing-masing selama 40 hari. 
    Jumhur (kebanyakan ulama) menyatakan bahwa wajib berpegang dengan ketetapan yang disebutkan dalam hadits. Namun bisa terjadi perbedaan jumlah hari dalam pembentukan tadi dikarenakan ada yang terjadi di awal atau akhir hari, di awal atau di akhir malam.

  2. Manusia mengalami tahapan 120 hari (4 bulan) dalam tiga tahapan yaitu nuthfah, ‘alaqah lalu mudghahRuh ditiupkan setelah 120 hari. Ulama 
  3. Hanafiyah berpendapat bahwa janin boleh digugurkan jika belum mencapai 120 hari karena ruh belum ditiupkan. Sedangkan ulama Syafi’iyah dan Hambali menyatakan bahwa boleh menggugurkan di bawah 40 hari dengan menggunakan obat yang mubah. Adapun jika melewati 40 hari masa kehamilan tidaklah dibolehkan dikarenakan sudah terbentuk segumpal darah. Dalam hadits dari Abu Hudzaifah disebutkan, “Jika sudah terbentuk nuthfah setelah 42 hari, maka Allah akan mengutus malaikat untuk membentuk nuthfah tersebut sehingga terbentuk pendengaran, penglihatan, kulit, daging dan tulang.” (HR. Muslim, no. 2645).

  4. Ulama Malikiyah sendiri berpandangan bahwa kandungan tidak boleh digugurkan setelah terbentuk nuthfah (bercampurnya sel sperma dan sel telur) walau lewat satu hari. Karena ketika itu telah dimulainya kehidupan dan wajib dimuliakan. Pendapat terakhir ini yang lebih kuat, menggugurkan hanya boleh jika darurat saja karena alasan yang dibenarkan dari pakarnya.

  5. Imam Ahmad berpendapat bahwa jika keguguran setelah 4 bulan (120 hari), maka janin dishalatkan, dikafani dan dikuburkan. Sedangkan ulama lainnya seperti Syafi’iyah berpandangan bahwa mesti menunggu sampai bayi tersebut lahir. Karena jika janin gugur dalam kandungan, maka tidak dianggap manusia sehingga tidak perlu dishalatkan. Namun pendapat pertama dari Imam Ahmad itulah yang lebih kuat.

  6. Hanya Allah yang mengetahui apa yang terjadi dalam rahim. Ini bukan berarti dokter tidak bisa mengetahui janin tersebut laki-laki ataukah perempuan. Namun dokter tidak bisa mengungkapkan secara detail apa yang ada dalam rahim sampai perihal takdirnya.

  7. Nah kan! Rezeki, maut, jodoh, dan segala sesuatu yang terjadi pada manusia sudah diketahui, dicatat, dikehendaki, dan ditetapkan oleh Allah Swt., tetapi bukan berarti manusia tidak perlu bekerja dan berusaha. So, berusahalah dan bekerjalah menjemput rezeki yang diridhoi Allah Swt.

Lalu poin ke 5, Selalu pantaskan dirimu saat menjemput rezeki tersebut, karena bisa jadi Allah belum atau tidak mengabulkan doa kita, dikarenakan belum pantasnya kita mendapatkan rezeki tersebut.

Jadi, jagalah hubungan baik kita dengan Allah Subhanahu wata'ala. Insyaallah kalau kita dekat dengan-Nya, kita akan dijauhkan dari kata-kata hingga pikiran negatif. Selalu berlarilah untuk mendapatkan nilai positif dari Allah Subhanahu wata'ala ☺, sehingga penilaian dari manusia bukan lagi sebagai hal yang mutlak.
Gambar: pexel
Poin ke 6, bertemanlah dengan orang-orang yang memiliki kata-kata baik.

Poin ini sudah saya lakukan, makanya saya pun ingin menuliskan afirmasi positif ini ke sahabat semuanya.

Poin 7, perlu diingat kesuksesan atau kebahagiaan akan datang tepat pada waktunya.


Setelah memantaskan diri dalam menjemput rezeki, yang perlu diingat juga adalah kebahagiaan itu akan datang di waktu yang tepat. Jadi, kita tak usah merasa kecewa bila masih banyak orang yang terlihat lebih sukses dibanding dirimu. Yakin saja kalau mereka itu juga butuh proses dalam menggapai kesuksesan atau kebahagiaan tersebut.

Itulah 7 poin yang sebaiknya bisa kita lakukan dalam membentuk kutukan-kutukan positif. Siap mencoba kutukan-kutukan positifmu sendiri? Apa kutukan positifmu hari ini? Ditunggu jawabannya di kolom komentar. Terima kasih.

0 coment�rios:

Yuk, kita berdiskusi di sini ☺💕. Terima Kasih.

Karya Antologiku

My Community

Teman-Teman SehatiQ