3 Indikator Teknik Show Don’t Tell Berhasil

 

teknik show don't tell
design by canva

 

Assalamualaikum Sahabat Lithaetr, mari masuki dunia lifestyle, parenting, inspirasi, dan hiburan (musik, film, buku, dan drama Korea).

Saya suka review drama Korea, alasan saya mengulasnya pasti berkesan. Ternyata kesan yang kita dapat dari sebuah karya, bisa saja karena teknik show don’t tell yang berhasil.

Memang apa sih, indikator teknik show don’t tell menjadi berhasil? Jawaban ini saya dapatkan setelah kemarin mengikuti maraton Kulzoom (Kuliah Zoom) yang diadakan oleh rumah belajar menulis (RBM) Ibu Profesional (IP) Jakarta dan KLIP (Kelas Literasi Ibu Profesional).

Penasaran apakah indikator-indikator keberhasilannya? Ikutin terus penjelasannya di sini ya, Sahabat.

Apa itu Teknik Show Don’t Tell?

Sebelum saya memaparkan apa itu teknik show don’t tell, marilah kita simak dulu beberapa kalimat berikut ini,

  1. Tubuhku tinggi besar. Celana jeans-ku berukuran empat puluh delapan. Di mal di seberang tempat kosku tidak ada satu pun toko yang menjual baju yang bisa masuk melalu leherku. Pipiku montok dan rambutku yang sebahu mengayun setiap kali aku melangkah. Ke mana pun aku pergi, semua orang membuka jalan. Mereka antara takut atau terpesona padaku.

 

  1. Aku adalah seorang wanita bertubuh gendut, memiliki paras yang biasa saja. Aku bukanlah orang yang istimewa, karena aku juga bukanlah anak yang terlahir dari keluarga kaya.

Kira-kira dari penggambaran tokoh dari dua kalimat di atas, Sahabat lebih suka yang mana? Saya mengambil contohnya dari cerita pendek (cerpen) gendut yang ditulis oleh Kakak Rijo Tobing.

Kalimat pertama adalah bagaimana Kak Rijo, demikian sapaan akrab saya untuknya, menuliskan perkenalan tokohnya si gendut. Sementara kalimat kedua adalah definisi tokoh si gendut yang saya rangkum dari ciri-ciri Kak Rijo, ungkapkan dalam ceritanya.

Saya juga punya contoh lain,

  1. Senyum lebar terpahat di wajah lugu Siti, matanya berbinar layaknya anak kecil yang baru diberi hadiah. Tubuhnya terasa ringan, membuat langkahnya terlihat seperti anak kancil yang melompat di pagi yang cerah.

 

  1. Siti merasa senang karena mendapatkan sebuket bunga dan cincin, dari kekasihnya.

 

Contoh di atas saya dapat dari materinya mbak Nurindah Fitriah (Mbak Indah), saat ia melakukan kulzoom ‘Kisahmu, Bukan Curhatmu’, Sabtu kemarin, yang diadakan RBM IP Jakarta.

Bagaimana sahabat, dari dua contoh di atas, sudahkah kita mulai merasakan perbedaan kalimat-kalimat yang dituliskan oleh kreator? Dari 2 narasumber, baik Kak Rijo dan Mbak Indah, sepakat kalau contoh kalimat di nomor satu itu adalah teknik showing don’t tell.

Jadi apakah yang dimaksud teknik showing don’t tell itu? Mbak Indah mengatakan showing itu dimaksudkan untuk menggambarkan suatu adegan dengan maksud bisa mengunggah kelima indera perasa pembaca atau penonton.

Ia melanjutkan, show don’t tell itu adalah teknik yang digunakan untuk memungkinkan pembaca dapat mengalami cerita melalui tindakan, kata-kata, pikiran, indera, dan perasaan.

Sementara Kak Rijo berpendapat, show don’t tell itu digunakan untuk menjelaskan dan membuat pembaca seolah-olah mengalami sebuah scene. Penulis lulusan teknik industri ini bahkan punya cara bagaimana membuat teknik show don’t tell.

Masih ingin tahu bagaimana Kak Rijo dan Mbak Indah dalam membuat teknik show don’t tell ala mereka? Tetap simak terus di sini.

 

Teknik Show Don’t Tell

cara membuat show don't tell ala rijo tobing
acara kulzoom KLIP

Cara membuat teknik show don’t tell ala Kak Rijo, yang mana ia memposisikan dirinya sebagai mata kamera dalam membuat sebuah adegan, sehingga ibu dari 3 orang anak ini membuat adegan berdasarkan bagaimana kamera bergerak.

Teknik show don’t tell yang menggunakan pergerakan kamera itu seperti,

  1. Close atau Short Shot

Maksud tujuannya adalah untuk menunjukkan detail sebuah kejadian dan membagun klimaks.

  1. Medium Shot

Maksud tujuannya adalah menunjukkan mimik dan tindak tanduk karakter. Kemudian menunjukkan hubungan antar karakter dan antara karakter dengan lingkungannya.

  1. Long Shot

Maksud tujuannya untuk membuka sebuah scene dan memperkenalkan sebuah karakter dalam setting (tempat dan waktu).

  1. Series of Shot

Maksud tujuannya membuat rangkaian scene yang dialami oleh karakter dan memastikan scene berkembang perlahan-lahan sampai mencapai klimaks.

  1. Zoom in dan Zoom out

Digunakan ketika POV (point of view atau karakter) sedang bergerak. Kalau zoom in itu seperti close shot. Sementara zoom out itu seperti long shot.

Itulah beberapa teknik show don’t tell ala Kak Rijo. Bagaimana dengan teknik show don’t tell ala Mbak Indah?

cara membuat story telling ala nurindah
kulzoom RBM IP Jakarta

Cara membuat teknik show don’t tell ala Mbak Indah itu ada 3 hal yang perlu di-highlight,

  1. Situasi

Ceritakan tentang gambaran tokoh yang akan diceritakan. Kemudian tentang masalah atau tujuan atau keinginan dari karakter. Rangkumlah hal-hal tersebut menjadi satu sampai dua paragraf awal.

  1. Aksi

Ceritakan apa yang dilakukan tokoh untuk menyelesaikan situasi yang ia hadapi.

  1. Hasil

Ceritakan apa hasil yang dicapai oleh tokoh setelah melakukan beragam aksinya.

Setelah menentukan ketiga hal tersebut, Mbak Indah menyampaikan untuk mulailah menulis dari hati dengan menggunakan teknik naratif-deskritif. Kemudian menulislah seakan-akan sedang berbicara dengan pembaca.

Penulis lulusan psikologi ini pun memberikan contoh terkait teknik show don’t tell-nya, contoh: Siti senang,

Jika dalam dialog bisa diwujudkan seperti ini,

“Kau tak bisa membayangkan betapa bangganya aku padamu saat ini,” ucap siti kepada kekasihnya.

Lalu bila dalam  monolog bisa seperti ini,

Aku tak pernah melupakan kejadian hari ini. Aku akan selalu ingat bagaimana kau tiba-tiba muncul di hadapanku dengan sebuket mawar dan cincin. Membuatku tersenyum lebar dan menangis haru.

Sementara kalau naratif-deskriptif atau detail sensori itu begini,

Senyum lebar terpahat di wajah lugu Siti, matanya berbinar layaknya anak kecil yang baru diberi hadiah. Tubuhnya terasa ringan, membuat langkahnya terlihat seperti anak kancil yang melompat di pagi yang cerah.

Itulah cara-cara membuat teknik show don’t tell ala Mbak Indah. Walaupun mereka punya cara yang berbeda tetapi tetap mempunyai benang merah yang sama yaitu bagaimana mengajak pembaca agar bisa merasakan dan dilibatkan ke dalam cerita kita.

Lalu apa saja indikator keberhasilan teknik show don’t tell ini?

 

3 Indikator Teknik Show Don’t Tell Berhasil

  1. Bila orang sudah bisa seperti menonton film saat membaca cerita kita, berarti teknik show don’t tell berhasil

Poin nomor satu ini dikemukakan oleh Mbak Indah dan menurut saya hal tersebut benar adanya, karena merujuk pada cara bagaimana Kak Rijo membuat teknik show don’t tell-nya.

  1. Pembaca merasa seperti terhipnotis dengan ceritanya

Poin nomor dua ini juga diungkapkan Mbak Indah dan saya pun merasa hal itu benar. Mengapa? Saya mengambil sebuah buku yang begitu terkenal yaitu Harry Potter karya JK. Rowling. Kapapun kita membaca buku tersebut, kita seakan-akan terhipnotis dengan dunia sihirnya si tokoh.

  1. Pembaca bisa dilibatkan dengan cerita sehingga ketika membaca ada rasa nagih tidak ingin berhenti

Pendapat ini juga diucapkan oleh Mbak Nurindah dan saya merasa setuju. Contohnya tetap pakai Harry Potter, saat pertama kali saya membaca novel tersebut, saya seperti diajak masuk ke hogwarts. Saya disuruh memilih mau masuk ke asrama yang mana dan bahkan saya merasa ikut belajar sihir bersama para tokoh. Itulah dasar bahwa teknik show don’t tell yang dibuat oleh JK. Rowling berhasil.

 

Oke, itulah beberapa indikator teknik show don’t tell kita bisa dinyatakan berhasil atau sukses. Bagaimana kita bisa membuat teknik show don’t tell yang keren? Tentu saja harus dimulai dengan membaca dan banyak berlatih menulis.

Nah, bagaimana sahabat, sudah mulai mengerti bagaimana cara membuat teknik show don’t tell? Silakan berikan tanggapannya, ya. Terima kasih.

13 pemikiran pada “3 Indikator Teknik Show Don’t Tell Berhasil”

  1. Ternyata setiap penulis memiliki teknik yang berbeda ya dalam melakukan show don’t tell ini. Saya sendiri kalau menulis kadang masih kesulitan mempraktikkan metode show don’t tell soalnya kayaknya masih banyak tell nya

    Balas
  2. wah ini seperti mengadaptasi penulisan naskah film.
    kebetulan saya pernah belajar secara akademis di kampus…
    bisa banget nih diterapkan di penulisan cerpen,
    apalagi cerpenis yang udah jago, karyanya pasti bagusss…

    Balas
  3. hai kak. kayaknya aku baru pertama mampir di blog ini
    wah ini seperti mengadaptasi penulisan naskah film.
    kebetulan saya pernah belajar secara akademis di kampus…
    bisa banget nih diterapkan di penulisan cerpen,
    apalagi cerpenis yang udah jago, karyanya pasti bagusss…

    Balas

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.