5 Pelajaran dari Tumbuh Kembang Rasulullah saat Balita

5 Pelajaran dari Tumbuh Kembang Rasulullah saat Balita

rasulullah
5 Pelajaran dari Tumbuh Kembang Rasulullah saat Balita

Allah Swt. berfirman dalam Alquran surah Al-Ahzab ayat 21, “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”

Dari ayat itulah, kita sudah diingatkan untuk selalu menjadikan Rasulullah atau Nabi Muhammad Saw. sebagai idola kita.

Assalamualaikum sahabat lithaetr, mari masuki dunia parenting, inspirasi, dan hiburan (musik, film, buku, dan drama Korea).

 

Sebagai seorang muslim, kita sudah mengetahui dan paham kalau sosok idola yang bisa dijadikan pembelajaran adalah Muhammad Saw. Sosok mulianya sudah diakui oleh semua orang, baik yang beragama Islam maupun non-Islam. Bahkan Pakar Pengembangan Diri dan Kepemimpinan, James M. Kouzes serta Barry Z. Posner mengemukakan, pidato-pidato (motivasi) yang mengesankan tentang nilai-nilai tidaklah cukup. Perbuatan pemimpin jauh lebih penting daripada kata-kata mereka untuk menentukan keseriusan tentang apa yang mereka katakan (motivasikan).

 

Kata-kata dan perbuatan seorang pemimpin haruslah konsisten. Pemimpin harus bisa sebagai teladan dan menginspirasi pengikutnya. Dia berjalan lebih dahulu dan memberikan contoh (teladan) melalui tindakan sehari-hari yang menunjukkan besarnya komitmen terhadap apa yang diyakini. Semua contoh berikut ada dalam diri Rasulullah Muhammad Saw. James dan Barry menjelaskan, berdasarkan muatannya, pesan-pesan motivasi serta keteladanan yang diinspirasikan Rasul Saw. mengandung 3 perkara utama, mencakup; perintah, anjuran, dan larangan. Kesemuanya dijiwai dengan nilai-nilai yang bersumber dari kitab suci yang benar, Al-Quran. Oleh karena itu, marilah kita pelajari tumbuh kembang Rasulullah Saw. agar bisa dijadikan hikmah dan pembelajaran.

 

Mau tahu pelajaran apa yang bisa kita ambil? Tetap simak terus tulisannya di sini, ya.

Penulis Irawati Istadi, dalam bukunya ‘Melipatgandakan Kecerdasan Emosi Anak’ menulis bagaimana proses tumbuh dan kembang emosi Nabi dan Rasulullah Saw. dari kecil hingga dewasa. Gambaran yang diberikan olehnya akan mampu membuat kita para orang tua langsung bisa belajar dan mengambil hikmah dari tumbuh kembang emosi Rasulullah Muhammad Saw.

 

Ia memaparkan, lahirnya Muhammad Saw. sebagai anak yatim sudah menjadi salah satu bagian rencana besar Allah Swt. dalam mendidik beliau agar menjadi manusia unggulan nan mulia. Melewati kehidupan tanpa kasih sayang seorang ayah adalah sebuah ujian yang cukup berat. Muhammad beruntung, kasih sayang yang hilang dari sosok ayah beliau dapatkan dari orang-orang di sekelilingnya seperti kakek, paman, dan pengasuhnya.

 

Inilah gambaran pedoman atau milestone Baginda Nabi dan Rasulullah Muhammad Saw. terkait tumbuh kembang emosi beliau, didasari atas peristiwa-peristiwa yang dialaminya,

 

Di zaman Rasulullah kecil, bangsa Arab mempunyai sebuah tradisi yaitu apabila ada seorang bayi yang dilahirkan dari kalangan mereka, maka bayi tersebut harus disusui oleh wanita lain. Hal tersebut dilakukan dengan tujuan meningkatkan daya tahan tubuh bayi, menguatkan otot, dan memelihara kefasihan berbicara seperti ibu mereka, karena keluarga yang menyusui bertugas melatih bahasa Arab bayi yang disusuinya.

 

Yang mendapatkan tugas menyusui dan mendidik Muhammad adalah Halimah binti Abi Dzuaib dari kabilah Bani Sa’ad bin Bakar. Suaminya bernama al-Harits bin Abdul ‘Uzza, yang biasa dipanggil Abu Kabsyah, dari kabilah yang sama. Halimah dan keluarganya bukanlah orang yang berkecukupan. Dia datang ke Mekkah di musim paceklik, mengendarai keledai putih yang sangat lambat karena lemah dan kurus. Dia juga membawa unta yang tidak lagi dapat memberikan susu. Dia juga membawa anaknya yang masih bayi dan anak kecil tersebut sering menangis karena kelaparan. Namun, Halimah tidak pernah menduga, keputusannya menjadi ibu susu bagi Muhammad adalah keberkahan bagi dirinya dan keluarga.

 

Kabilah Bani Sa’ad bin Bakar tinggal di daerah pedalaman yang lingkungannya masih alami, udaranya terbuka dan bersih, anginnya segar, serta pencahayaannya sempurna. Syaikh Muhammad al-Ghazali menyampaikan lingkungan Bani Sa’ad yang seperti itu, menyebabkan watak seorang anak lembut, fisik dan inderanya cepat berkembang, serta perasaannya halus. Watak itulah yang tertanam dalam diri Rasulullah Saw, karena beliau dididik dalam keluarga Halimah binti Abi Dzuaib.

 

Dari keluarga Halimah inilah beliau belajar kesederhanaan, kepemimpinan, dan kemandirian. Kesederhanaan didapatkan beliau dari keluarga Halimah yang bukanlah orang berkecukupan, sehingga Muhammad kecil terbiasa bersabar dan sudah terbiasa untuk tidak selalu mendapatkan segala yang diinginkan. Jika menginginkan sesuatu maka beliau membantu keluarga Halimah menggembalakan kambing, walaupun sebenarnya ibu susuan dan keluarganya tidak mengharuskan Muhammad bekerja. Dari situlah Muhammad belajar mandiri untuk memenuhi kebutuhannya. Kemudian beliau belajar tanggung jawab dan memimpin sebuah kelompok, walaupun saat itu masih mengatur kambing-kambing. Sejak usia dini, Muhammad sudah mendapatkan pelajaran-pelajaran berharga dari kehidupannya sehari-hari.

 

Bersama keluarga persusuannya itulah Muhammad kecil terbentuk dan tumbuh memiliki mental yang sudah terbiasa dengan kerasnya hidup, sehingga ia pandai menunda keinginanya. Dari keterbiasaan dalam menunda keinginan, beliau tumbuh menjadi tokoh yang teguh pada prinsip dan tak tergoyahkan oleh iming-iming apapun. Karakter inilah yang menjadi bekal Baginda Nabi tidak gentar dalam menghadapi musuh-musuh Islam.

 

Pada saat Muhammad memasuki usia 4 tahun, ia mengalami sebuah peristiwa yang dahsyat, yaitu beliau sempat tersesat sendirian di padang pasir yang tandus berhari-hari. Beginilah ceritanya, setelah 4 tahun berada dalam pengasuhan Halimah, tibalah saatnya Muhammad kecil diserahkan kembali kepada pengasuhan ibu kandungnya. Di tengah perjalanan, anak kecil ini terpisah dari Halimah, tertinggal seorang diri di tengah gurun pasir yang luas dan kosong. Halimah baru merasa kehilangan anak asuhnya setelah mendekati Makkah. Ia pun segera mencari Muhammad kecil, namun belum berhasil menemukannya.

 

Dalam kondisi sendirian tanpa bekal apapun di tengah gurun pasir, merupakan ujian yang sangat berat bagi Rasulullah kecil. Di saat inilah beliau ditantang untuk menenangkan diri, menekan kesedihan, kemarahan, ketakutan, dan menggantinya dengan kepasrahan. Ujian tersebut pun mampu dilewati oleh Muhammad. Saat Halimah menemukan Muhammad, beliau sedang duduk merenungi alam seorang diri dengan ketegaran dan ketabahan yang luar biasa. Dari peristiwa tersebut, Rasulullah belajar tentang kesendirian, sehingga ketika dewasa,  beliau terlatih menjadi seseorang yang tidak mudah tergantung dengan orang lain dan terbiasa menolong dirinya sendiri. Bila Nabi Muhammad menghadapi masalah dan kegagalan, maka ia pun akan segera bangkit untuk menghadapinya.

 

Dari kisah masa kecil atau balita Rasulullah tersebut, kita sebagai orang tua sebaiknya bisa mengambil pelajaran. Menurut penulis setidaknya, ada 5 hal yang bisa kita jadikan kunci utama dalam mendidik anak-anak.

 

1] Dahulukan adab sebelum ilmu

 

Rasulullah terkenal buta huruf, tapi manusia agung tersebut mendapatkan julukan “Orang yang Terpercaya”. Hal tersebut menjadikan Rasulullah, orang yang disegani di kalangan kaum Quraish. Beliau selalu mendahulukan adabnya yang luar biasa dalam menghadapi orang-orang. Karena adabnya itulah ia bisa mempelajari berbagai macam ilmu dalam kehidupan ini.

 

Inilah yang perlu orang tua beri tahukan kepada anak-anak, bahwa adab sebelum ilmu itu penting. Bagaimana mereka belajar menghormati dan menghargai sesama manusia. Bagaimana mereka memperlakukan sesama dengan baik, itu lebih utama.

 

2] Belajar untuk menahan keinginan yang tidak perlu

 

Diasuh oleh keluarga ibu persusuan, membuat Rasulullah banyak belajar untuk tidak berlebihan-lebihan. Inilah yang perlu kita ajarkan kepada anak-anak. Anak-anak sebaiknya mengetahui dan belajar untuk memenuhi segala sesuatu yang ia perlukan sesuai kebutuhan, bukan hanya keinginan semata.

 

Anak-anak perlu diajak untuk memilih dan memilah mana kebutuhannya, serta belajar menahan keinginan yang sekiranya belum perlu. Ajari anak-anak untuk bersabar di kala mereka menginginkan sesuatu dan diperlukannya kerja keras, kesabaran, serta doa demi mewujudkan keinginan tersebut.

 

3] Belajar kemandirian

 

Rasulullah belajar mandiri untuk memenuhi kebutuhannya, dengan menggembalakan kambing keluarga Halimah. Sejak kecil beliau terbiasa mandiri, sehingga Rasulullah pun menjadi pribadi yang tangguh. Kemandirian inilah yang juga perlu ditanamkan kepada anak-anak. Bagaimana ia akan bertahan hidup nantinya, itulah pengalaman yang harus diberikan oleh orang tua.

 

Sederhananya, ajari anak-anak untuk bisa memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi. Biasakan mereka untuk bisa memasak, mencuci baju, piring, gelas, dan keterampilan hidup lainnya. Jika anak-anak terbiasa mandiri, InsyaAllah mereka akan lebih tangguh dalam menjalani kehidupan ini.

 

4] Belajar mengolah emosinya

 

Lahir sebagai anak yatim, membuat Muhammad kecil sudah belajar mengolah emosinya sejak kecil. Selain itu, peristiwa di kala ia terpisah dengan Halimah di padang pasir, semakin membuat Rasulullah belajar bagaimana mengolah emosinya. Hal itulah yang bisa dijadikan pembelajaran buat para orang tua.

 

Diambil dari sumber okezone.com (18/2/18), sukses dalam hidup tidak hanya ditentukan nilai akademik, tapi juga ditentukan oleh kemampuan seseorang dalam mengontrol emosi dalam dirinya. Sebab emosional itu merupakan gabungan antara 2 jenis keahlian, yaitu sosial dan personal. Dua komponen inilah yang mampu membawa individu meraih sukses dalam hidupnya.

 

Itulah alasan mengapa orang tua perlu mengajarkan anak-anak untuk pintar mengelola emosinya.

 

5] Tidak menggantungkan diri kepada manusia

 

Peristiwa tersesat nya Rasulullah di padang pasir, memberikan pelajaran kalau Allah Swt. mengajari beliau untuk tidak bergantung kepada manusia. Allah Swt. sejak awal membuat Rasulullah untuk senantiasa menggantungkan segala sesuatu kepada-Nya. Dari sinilah, menurut penulis kalau orang tua perlu menanamkan hal tersebut pada anak-anak.

 

Biasakan diri mereka untuk selalu mendekat kepada-Nya. Agar di kala mereka mendapatkan permasalahan yang berat, mereka tahu kalau pertolongan itu datangnya bukanlah dari manusia tapi dari Allah Swt.

 

Itulah 5 pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah tumbuh kembang Rasulullah saat balita. Sejatinya penulis pun masih fakir ilmu dan masih terus belajar. Jika ingin tahu pelajaran apa yang harus kita pelajari ketika Rasulullah anak-anak hingga remaja, silakan berkunjung ke lithaetr-blog.

 

Sejatinya kebenaran hanya milik Allah Swt., manusia tepat segala khilaf dan salah. Semoga pembelajaran sederhana saya, bisa bermanfaat, aamiin.

 

Referensi:

 

 


17 pemikiran pada “5 Pelajaran dari Tumbuh Kembang Rasulullah saat Balita”

  1. Belajar mandiri itu pentinggg banget sebab ortu ga akan selamanya ada bersama anak kan ya huhuuu… Rasulullah SAW telah memberikan teladan sebagai orang yg mandiri dan merdeka baik secara politik, apalagi ekonomi.

    Balas
  2. Tulisannya keren kak…
    Aku baca baca kehidupan rasul dari buku mute…
    Anak anak juga suka baca buku itu, sekalian mereka bisa tahu kehidupan rasul

    Balas
  3. Masya Allah terima kasih sharingnya mba. Dulu saya waktu kecil belum paham, pokoknya kalau ditanya idola jawab aja RASULULLAH saw. Sekarang baru paham, memang betul masya Allah terdapat suri tauladan yang baik dalam diri beliau.

    Balas
  4. Bener banget Mbak, dahulukan ilmu sebelum adab. Lebih baik ngajarin gimana cuci piring, bersih-bersih dulu kemudian hafalin abjad dan angka. Aku lagi berusaha ngajarin anakku memahami emosinya Mbak, semoga kita orang tua selalu dimudahkan Allah mendidik anak-anak kita menjadi penghuni surga dan pembawa kebaikan untuk umat ya Mbak. Ammiinn…

    Balas

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.